Kamis, 04 Juni 2009

THANK'S TO gudang hati 1

1. SANG PENCIPTAku ALLAH SWT yang udah ngasih aku kehidupan dan sedikit kelebihan ini, juga kepada Nabi besarku Muhammad SAW yang udah ngebimbing aku ke jalan yang benar.
2. terima kasih yang luar biasa besarnya kepada Ibuku yang udah ngelahirin aku dan membesarkanku selama ini, pada Bapakku yang udah nurunin darah seninya padaku dan selalu ngedukung aku (maaf ya pak, bu, zaqi belum bisa kasih apa – apa dan belum bisa bahagiain kalian).
3. Buat kedua kakakku yang sayang ma aku (thank’s, aku sayang banget ma kalian, maaf aku sering ngerepotin kalian).
4. Buat Lucky (thank’s inspirasinya ma pelajaran bkin puisinya)
5. Pada keluarga besar Abdurrahim dan keluarga besar Ghufron, adikku Opi, Lilis, luluk (makasih support kalian)
6. Buat Sweety (anezt, WP, Choey, Lisa, Arum) makasih banget udah mau setia nemenin aku dalam suka maupun duka, buat Eross Candra n Chairil Anwar, (thank’s my idol, buat anak – anak TI Multimedia angkatan 2007, buat “Destroyer Gank” (thank’s udah benci aku juga menyakiti aku), buat temen – temen SDM II angkatan 2001 juga temen – temen SMPM IV angkatan 2004, buat sahabat - sahabatku Hendra, mamik, vickar, vita, sinyo, Rischya, Kholifa, Savvy, Titik, Siska, Melin, Vida, Eva (makasih udah sabar ngadepin aku) Bu Nur, Bu Lilik(thank’s pelajaran Bahasa Indonesianya), buat orang – orang yang saying ma aku, udah mo ngertiin dan ngedengerin isi hatiku thank’s banget.
7. Buat semua orang yang udah jadi inspirasiku ataupun nggak yang nggak sempet aku sebutin thank’s, juga semua orang yang membenciku, menyayangiku, yang kenal ma aku, dan yang udah bantu aku hingga saat ini, thank’s banget buat kalian. Buat semua orang yang belum sempet aku sebutin, sorry.

untitled

Lama sudah aku duduk disini, menunggu engkau dating sebagai nafas dalam hatiku
Engkau hadir sesaat, lalu memudar, engkau kembali hadir dalam hidupku, namun hanya semu.
Aku terus menunggu, menunggu dan mencari, namun tetap saja, engkau hanya singgah dalam pangkuanku, lalu pergi dan menghilang begitu saja.
Sahabat, aku disini tetap menunggu, menunggu telingamu, hatimu, kakimu, mulutmu, untuk datang sebagai nafas dalam hatiku.


2007

PENANTIAN

Sepi, sunyi, kelam
Udara berhenti berbisik
Sang surya telah pulang ke peraduan
Dinding – dinding pun ikut terdiam

Dimana lagu nan merdu?
Dimana irama suling nan elok?
Tak ada secercah dawai yang dating

Langit kelam,
Cahaya redup,
Tak ada yang bercahaya

Kini, aku hanya menanti seorang kawan
Yang datang temani tidur malamku


Bandung, 05.08.07

untitled

Telah terbang melayang sumpah ikrar itu
Pergi jugakah segepok kasih saying itu

Tak percaya aku
Inikah yang terjadi?

Pada titik masa
Datangkah purnama?
Merangkaikan mimpi – mimpi yang tak nyata di waktu ini
Meniupkan kisah senyuman di waktu nanti

Tak percaya aku
Inikah yangn terjadi?

2007

untitled

Telah mereka reguk nafas – nafas dari jiwaku
Tiada tersadarkan oleh mereka
Nafasku terselip di sela-sela langkah mereka
Kini,
Aku hanyalah seorang pengecut! Pecundang, penakut!
Aku takut kehilangan,
Aku takut pada kebisingan,
Aku takut pada keramaian,
Aku takut menggores noda hitam,
Yang aku tahu,
Aku hanya diam, diam, dan diam
Duduk menunduk membutakan mata
Ceriaku terbang terhembus angin
Senyumku kusam tergores sedih,
Dimana diriku?
Diriku yang sadar akan duniaku?
Dimana? Dimana engkau berada Zaqqiyaku
Akankah sinarmu kan kembali merekah
Di ujung – ujung tawamu?

2007

CARAKU MENYAYANGIMU

Aku,
Aku ingin menyayangimu dengan caraku
Dengan membiarkan kesejukan merambah
Ketika sinar dunia terpancar dari indah senyummu

Aku ingin menyayangimu dengan caraku
Dengan membiarkan wangi surga menyerbak
Ketika bahagiamu mengalun bersama melodi tawamu

Aku,
Aku ingin menyayangimu dengan caraku
Dengan membukakan pintu untuk perih
Yang mengetuk hatiku dengan tangismu

Aku ingin menyayangimu dengan caraku
Dengan menghamparkan tanganku
Saat kerapuhan menjamahmu

Sayang,
Takkan ku berikan istanaku untukmu
Takkan kuhadiahkan mahkotaku untukmu
Kan ku bisikkan jiwa dan hatiku di belenggu cintamu
Karena tak lagi dapat kusuguhkan sesuatu bagimu

Sayang,
Aku ingin menyayangimu dengan caraku
Tak peduli walau jiwamu tak untuk sayangiku

Tak peduli tak kau tebarkan indah pada deretan kisahku
Tak peduli walau pundakmu tak untuk penatku
Tak peduli tangis dan tawamu tak tertuju untukku
Yang ku peduli,
Hanya senyum dan bahgiamu

Sayang,
Begitulah caraku menyayngimu


2006

KINI

Tiada yang indah ketika ini
Karena harummu tak lagi terbias
Purnama pun tak lagi istimewa
Karena kudapati kini
Engkau tak menikmati cantiknya bersamaku

Tak dapat kuingkari kini
Malam yang tak berbisik
Pagi yang tak menyapa

Hariku suram, hidupku kelam
Tak dapatkah kau dendangkan kembali
Semua indahmu yang mengalun bersamaku
Yang tatkala itu meneduhkan jiwaku

Aku ingin indahmu
Aku ingin harum itu
Aku ingin kisah sejuta mimpi itu lagi

Ah...
Tak dapat aku berkata lagi
Sadarlah aku kini
Bahwa tak ada yang abadi

13042006

untitled

Tak kusadari, berkilometer jalan kutempuh dengan menutup mata, tak kubuka sedikitpun, untuk mengintip kebesaranNya, untuk mengetahui keagunganNya, untuk dapat merasakan kasih sayangNya.
Yang kutahu, kuindahkan kemunkaran, kuagungkan kata cinta, kuingkari firmanNya.



Ya Allah kini aku bertekuk lutut di gerbang istanaMu, dari sini kulihat cahayaMu, berpendar – pendar membuka satu persatu pintu hatiku.

Ya Allah, kapan semua pintu hatiku kan kau buka? Untuk larut dalam perintahMu, untuk melawan semua laranganMu. Ya Allah aku menunggu saat itu, saat aku tunduk di jalanMu.

Namun aku sadar, tak pantas aku di pinggiran surgaMu, tapi ya Ilahi, aku tak sanggup tuk berada di nerakaMu.

Ya Rabbi, bukalah dengan lebar pintu taubatMu untuk hambaMu yang tersesat ini, karena yang kutahu Engkau tak miskin ampun.


210306

untitled

tak tahu apakah ini
cintakah? sayangkah?
atau hanya sebuah perasaan yang kan pudar?
Namun, ini tak timbul karena keterpaksan
tak timbul Karena kebahagiaan semata
sektika datang tiba – tiba dengan tulus,
semua t’lah kulakukan untuk mempertahankannya
agar tetap abadi, dan semua menjadi restu
meskipun kadang batu – batu menimpa tubuh
sampai kini langitpun ikut runtuh
akankah semua abadi?
Akankah tetap kokoh bangunan itu?
Akankah semua akan berakhir indah?


2004

KADOKU UNTUK HIDUPMU DI TAHUN KE-18

hidup ini sebuah lukisan abstrak
tak luput warna kelam dan cerah

bersiaplah saudaraku waktu drama ini harus dihapus
ketika setingkaian petir menyapa

karena kita tahu
kekhilafan tak jua sirna dari peredaran
teriring selalu siang dan malam

berbahagialah saudaraku
waktu harus datang
rahmat Allah yang tak terbendung

karena yang ku tahu
DIA tak miskin ampun


210306

18

18 tahun sudah kau berpijak
di atas putaran tanah
keindahan dan kesuraman pun
terlukiskan pada kanvas hidupmu

dan kini
mendayunglah kau
pergi ke dunia nyata
mengarungi hidup sebenar – benarnya

melakonkan scenario yang telah dibuatNya
dan menjadi artis terbaik di mataNya

dan izinkanlah aku Zaqqiya
untuk mengucapkan kata terindah di hari ini
Selamat Ulang Tahun

DUA

2 periode waktu telah hadir
putik – putik sayang menggaris indah
asa manis bergelayutan riang
kan nyata juga tak tahu


14022006

RASA

Kan luruh rantahkah noktah – noktah rindu
Peristiwa cinta yang jadi saksi
Memaparkan genangan rasa yang fana


14022006

INIKAH YANG TERJADI

Inikah yang terjadi
Setelah malam – malam terlampaui
Dan telah datang memeluk,
Tirai surga yang dinanti

Air mata ini beku,
Senyum di bibir ini kaku
Nyata atau fiktif
Tak percaya aku
Hancur luluh sudah sekarung impian
Oleh lisanmu, oleh hatimu
Olehmu!

Telah terbang melayang sumpah ikrar itu
Pergi jugakah segepok kasih sayang itu
Tak percaya aku
Inikah yang terjadi

Pada titik masa nanti
Datangkah purnama?
Merangkaikan mimpi – mimpi yang tak nyata
di waktu ini
Meniupkan kisah senyuman di waktu nanti
Tak percaya aku
Inikah yang terjadi

untitled

Apalah arti hidup ini
Saat tak lagi dalam pelukanmu
Apalah guna aku bermimpi
Kala semua nyata telah pergi

Maafkan aku kekasih
Tak mapu jadi yang terindah
Ampuni aku wahai cinta
Tak dapatku mengindahkanmu

Disini aku terjaga
Mengukir kenangan yang tak mungkin kembali
Melipat segenap asa dalam angan

untitled

Di dunia ini
Adakah yang lebih indah darinya ?
Adakah yang lebih megah darinya ?
Adakah tutur yang lebih merdu darinya ?
Adakah yang lebih bersinar dari cahayanya ?
Adakah yang lebih berkilau dari air matanya ?
Adakah yang lebih agung dari do’anya ?
Adakah yang lebih cantik dari hatinya ?
Adakah yang lebih mengharukan selain melihat senyumnya ?
Adakah yang dapat melebihi semua pengorbanannya ?
Adakah sayang yang melebihi rasa sayangnya ?
Adakah kasih yang lebih mulia dari kasihnya ?
Mungkinkah ada yang dapat menebus semua cintanya, sayangnya, tangisnya, kasihnya, pengorbanannya, semuanya yang telah ia berikan kepada kita?
Ibu, tak ada yang dapat melebihi semua tentangmu
Kasihmu abadi
Cintamu suci
Ibu,
Tak dapat lagi aku berkata - kata
Ibu, aku menyayangimu

Selamat hari Ibu
22 desember 2005

ANDAI AKU JADI POHON

Andai aku jadi pohon
Tak merasa
Tak berfikir
Tapi bernafas

Andai aku jadi pohon
Dimandikan, disuapi
Di dandani,
Sungguh menyenangkan

Andai aku jadi pohon
Saat matahari pagi tersenyum
Akupun tersenyum lebar
Dan saat malam tiba
Aku terlelap bersama sinar bulan

Andai aku jadi pohon
Ketika angin sepoi datang
Daunku bergoyang
Aku menari dengan gembira

Andai aku jadi pohon
Tak pernah merasa kesepian
Selalu ditemani burung – burung
Ulat, semut,
Dan semua makhluk alam

Andai aku jadi pohon
Aku bisa hidup 1000 tahun lebih lama
Menemani manusia
Sampai akhir hidupnya
Tapi aku bukan pohon
Aku hanya manusia
Yang sombong, angkuh, tamak, hina

Tapi aku bukan pohon
Aku hanya manusia
Yang tak punya hati
Yang bisanya hanya
Menebangnya, menyakitinya


Tapi aku bukan pohon
Aku manusia kesepian
Yang selalu menangis
Dan kadang tertawa

Tapi aku bukan pohon
Aku manusia
Yang menunggu burung – burung
Berkicau di dahanku


2005

HIJRAH

Terdiam tertundukku
Kumandang kesucian berseru
Gumpalan darah merombak kini
Meniup harian kusam
Hadirkan kemilau harapan

Sang Maha Agung
Menarik aliran darah
Merangkaikan sebongkah perintah

Bismillahirrahmanirrahim……
Kuayunkan kakiku
Mendaki bukit curam
Mencoba berhijrah aku
Menuju air surga
Tidak untuk kubagi
Tidak untuk kuberi
Tidak untuk siapapun
Untukku, hanya untukku


05102005

KAMU ADALAH KAMU

Kamu adalah kamu
Bagaimanapun warna hatimu
Kamu adalah kamu

Ketika setiap orang
Melagukan irama berbeda tentangmu
Namun,
Kamu adalah kamu
Yang membawa dirimu
Terbang menggapai pelita harapan

Namun,
Kamu bukanlah kamu
Jika kelak,
Engkau membaur bersama debu
Yang membawamu
Menuju kajian hitam

Tapi kamu adalah kamu
Saat kau rengkuh kembali
Semua impianmu

AKANKAH DATANG?

Haruskah aku bertanya
pada gunung yang menjulang ?
Ketika datang pelangi
Mewarnai jubah kelam

Malam berilham
Harus kutanggalkan semua jubah kebesaranku
Untukmu,
Hanya untuk terbang bersamamu

Namun bibirmu berkata
“Tunggulah saat pelangi menjemputmu”
Apa yang harus aku perbuat

Aku takut,
Bila waktu menjemput
Pelangi itu telah membaur menjadi kabut

Apa inginmu ?
Mungkinkah mendayung perahu cinta ?
Ataukah menari bersama bintang ?
Aku tak tahu

Gundukan emas ini makin menumpuk
Akankah datang peti pembawanya?

19082005

SESAAT DI PAGI INI

Pagi ini, gerimis mengguyur bumi
Burung – burung tetap bernyanyi
Terbang pergi berteduh

Pagi ini
Desaku sunyi
Bertiraikan awan kelam
Matahari melirik dari celah – celah timur sana

Gerimis menegakkan kaki manusia
Tuk tetap berlari menyongsong hari
Tuk tetap berjalan
Ke tempat memperpanjang usia

KUNANTI

Tatkala gerbang pagi terbuka
Hatiku beku, bisu
Tangan-tangan kesunyian
Terus merangkulku

Bilangan nestapa berkecmuk
Di lorong angan
Lagu-lagu duka berlarian mengejar
Kekosongan menjadi layar kelam

Tenggorokan terasa kering
Tetap dalam penantian
Selendang sutra yang turun dari surga
Mengaliri kawah-kawah kering

Setiap kerling bintang kunanti
Senyum manis barisan bidadari
Mengenakan gaun emas yang berkilau
Terbang turun ke tempat ku terlelap

Akankah dawai mimpi mengalun ?
Di muka pagar hari ?
Dibawah sinar mentari?
Hingga terangkat bibir ini

18.30

setitik air hinggap dipipiku
saat semua ini harus terjadi
waktu telah mengajarkan kita ,
untuk saling berbagi,
untuk saling mengisi

namun waktu pun tak bisa berkutik
ketika dinding yang kita bina harus runtuh
berpuing – puing menjadi tangis

kita harus berpisah
namun tidak untuk terpisah
tapi untuk bersatu kembali, nanti
tuk membangun kembali
dinding yang lebih kokoh
tuk kita bersandar,
tuk kita berbagi,
tuk kita tertawa, tersenyum,
serta menagis

dan ketika itu,
aku tak mau mengalah dengan waktu
terus berlari, menyongsong matahari

dan pada saat itu pula,
aku tak mau melihatmu bagai setan
melihatmu bagai malaikat
kuingin melihatmu, sebagai kekasihku
kekasih yang pernah kucinta

UNTUKMU SAYANG

Sayang,
Berulang kali kata ini terucap dari bibirku
Sanggupkah kita terus bersama
Menyulam benih – benih cinta
Mengarungi jurang yang dalam

Sayang,
Aku berkata,
Bukan aku tak percaya
Akan besarnya rasa sayangmu padaku
Bukan aku tak percaya
Dengan tali yang kau ikatkan pada hatiku
Bukan aku tak percaya
Pada bulan purnama
Sebagai pedoman cinta kita

Sayang,
Kata ini terucap dari hatiku
Dari hati yang takut
Bila esok dirimu tiada temani hatiku lagi

Sayang,
Hatiku terlalu sering berprasangka
Kuingin hatimu mengerti
Sebesar apa rasa sayangku
Tapi hatimu tak jua mengerti

Sayang,
Kurebahkan kepalaku dibahumu
Tuk lepaskan semua sesakku
Tuk tumpahkan semua tangisku
Sedikit yang kupinta sebuah pelukan hangat tanganmu
Sebuah anggukan mengerti tetang rasaku
Tapi semua itu takkan terjadi
Sayang,
Bagaimanapun dirimu
Aku telah jatuh dalam belenggu cintamu

Tak ingin hati tersakiti
Tak ingin hati terpisah
Yang kuingin
Kedua lingkaran itu
Tetap melingkar pada jari kita

TANYANYA

Tak ada gedung yang tak runtuh
Tak akan ada sesuatu yang abadi
Kecuali diri-Nya

Sekokoh apapun gedung bertingkat
Pasti kan runtuh disambar getirnya dunia
Se abadi apapun dunia
Kelak kan hancur termakan kiamat
Sekuatnya hati manusia
Takkan tahan,
Bila tersayat kesendirian tak bersebab

Hinakah dia ?
Kotorkah dirinya ?
Najiskah ia ?

Katakan !
Katakn wahai cermin kehidupan !
Kan diukirnya tempat yang lebih indah

Pabila cermin kehidupan tak berkata
Bisakah dia bertanya pada hatinya ?
Lalu kenapa kau kutuk dia seperti ini?

Apa ?
Apa mantra dari kutukan ini ?
Siapa ?
Siapakah yang mempunyai mantra ajaib itu ?
Akankah datang seorang peri yang menggoyangkan tongkat ajaibnya ?
Akankah ada sebuah pintu menuju istana?
Tak tahu,
Dia tak tahu
Namun ia terus berharap

KANGEN

Saat cahaya matahari telah meredup dan terlelap
Ketika itulah
Bayangmu datang menyayat hati
Membiarkan embun jatuh
Membasahi kerinduan

Ini diriku,
Dengan segenap perkakas cinta
Menggali untaian benang emas
Mengingkari aliran masa

Apa dayalah aku ?
Prajurit – prajurit datang menghunus pedangnya
Terbahak,
Melihatku terbaring lemah

Ingin aku menenun benang emas
Menjadikan sehelai kain ketulusan
Tanpa noda keterpaksaan
Namun dengan hiasan cinta


2005

PERJALANANKU

Di kesucian hari
Terdengar sayup – sayup irama sendu
Dentatan mimpi – mimpi yang terbeli
Menyulap fana jadi nyata

Teriuhkan olehku
Enyuhan dentauan air mata
Semakin lama
Semakin lebar jurang ini
Kakiku yang hampir patah
Terus berjalan menelusurinya

Kuhentikan sejenak langkahku
Aku lelah…
Masih panjangkah jembatan ini ?
Jembatan menuju seberang sana
Hamparan padang hawa
Dimana kukan tersenyum

TSUNAMI

Kala mereka bersantai merebahkan lelah
Kala saudaraku mandi membersihkan diri
Di kala adik-adik bayiku tertidur pulas
Pulas……. Dan bermimpi

Tak disangka,
Tubuh bergetar, rumah berguncang
Telah terjadi apakah diluar sana ?

Air deras menyapu rumah-rumah
Menghanyutkan saudara-saudaraku
Merobohkan gedung-gedung perkasa
Membersihkan serambi makkah

Tsunami datang,
Saudara-saudaraku berlarian
Tak tahu arah tujuan
Adik-adikku menangis, ketakutan

Tsunami hadir,
Ribuan saudara-saudaraku tergeletak tanpa nyawa
Adik-adikku meronta kehilangan
Menjerit kesepian tanpa ayah dan bunda
Bayi tak berdosa pun terbang ke surga

Tsunami menyapa,
Tanpa kata, tanpa mengetuk pintu
Tanpa pamit! Tanpa permisi!

Tsunami ganas bak macan
Tsunami seram bagai monster
Tsunami, tsunami
Apa maumu ?

Ya Allah ……..
Apa ini ?
Adzabkah? Peringatankah ?
Marahkah Engkau Ya Allah ?
Murkakah Engkau Ya Rabbi ?
Engkau hanya diam tak bersuara




Ampuni kami Ya Illahi
Maafkan wahai Penguasa Langit dan Bumi
Kami sadar,
Telah tinggi tumpukan dosa kami
Sudah menggunung semua kekhilafan kami
Sudahi bencana-Mu ini

Ya Allah………..
Inikah amarah-Mu ?
Secuil ini kami tak tahan
Bagaimana kelak ?
Saat hari-Mu tiba,
Hari Engkau hancurkan alam semesta

Ya Allah …….!
Titiskan sabarmu, tabahmu
Untuk saudaraku di Nangroe Aceh Darussalam
Lindungi mereka,
Tenangkan arwah saudara-saudaraku
Yang telah pergi menghadap-Mu


24 Desember 2004

DERITAKU DALAM TERAWANG

Berada dimanakah ku siang ini ?
Tiada ku tahu keberadaanku
Samar terkesiap
Berduyun-duyun pagar merapat
Memboikot arahku

Tersentakku dari lamunanku
Kala diputar terowongan waktu
Menggambarkan, akan datangya padaku
Kejutan nyata dunia jelata
Deburan tawa berkesinambungan
Bercampur,
Menjadikan sebidang rumus kesedihan
Mendera,
Meneteskan buih-buih tangis

Lalu bicaraku pada pecahan langit
Dimana ujung dari perkara ?
Pecahan langit tetap diam tak bersuara
Tertiup oleh angin kencang

Tetap ku bersenandung gembira
Meski ku tahu
Tak lagi bisa kuberanjak dari tempat ini
Papan terjal tak bersahabat
Terasa merekat kuat
Tak terlawan

Seluruh jagad memandangku bahagia
Tak mengerti diriku
Sedang kehausan dan tak dapat bernafas
Butuh setetes kesejukan

Tiada pantas ku berkata
Tiada pantas ku menanti
Inilah wabah dari kebungkaman


2004

PENGADUAN

Dalam setiap nafasku
Selalu berhembus nama-Mu
Di dalam kerdipan mataku
Selalu terbayang wujud-Mu
Setiap detik berlalu
Ku coba jalankan perintah-Mu

Ya Allah………
Kini aku mengadu di rumah-Mu
Di bawah naungan kuba yang teduh

Ya Allah……….
Hati ini selalu menangis
Jiwa ini selalu bersedih
Hatiku selalu resah dan gunda

Sementara di luar sana
Semua burung, bunga dan alam
Telah menampakkan senyumnya

Telah ku coba menjalankan perintah-Mu
Telah kubeli berbagai macam perisai
Dan sudah kuasah semua pedangku
Tapi hati tetap tak kuasa menahan tangis

Ya Allah…….
Harus bagaimana lagi aku melangkah?
Kaki ini sudah lelah
Dan tak kuat lagi untuk dijalankan

Ya Allah……….
Kirimkan sebuah bintang untukku
Dan perintahlah bulan dan matahari
Tuk buatku tersenyum

2004

YANG SETIA

Dia sinar mentari
Yang tak pernah lelah bercahaya
Dia adalah
Dingin yang menemani malam

Dia pesisir yang setia pada pantai
Pelabuhan bagi kapal-kapal rindu
Dia adzan yang selalu bergema

Harapku,
Semoga dia tetap yang setia
Melumpuhkan badai angin untukku
Melawan semua hujan batu
Memberikan buah cintanya untukku
Hingga titik hayat

Dia,
kobaran api yang tak kunjung padam
Dia adalah kekasih hatiku


2004

TELEPON KIAMAT

Telepon kiamat mulai berdering
Lewat tingkah manusia yang semakin gila
Lewat kehancuran-kehancuran yang merajalela
Melalui keimanan yang semakin pudar

Haruskah kita diam dengan keadaan ini?
Apakah kita hanya buta dengan keadaan ini?
Ataukah kita abaikan dering telepon itu?
Atau mungkin kita angkat gagang telepon itu?

Kita bodoh!
Kita tertipu oleh rayuan kemaksiatan
Kita terbuai akan keharuman kehancuran
Sementara telepon itu masih berdering
Semakin keras, keras, dan keraaaas
Tidak takutkah kita akan hari itu?
Lupakah kita akan hari itu?
Hari hancurnya alam semesta


2004

ISIKU

Terlihat di langit sana
Bintang bersinar terang
Menyinari hati yang gelap gulita

Sepi menyelimuti
keheningan di malam ini
Telah hilang suara siang
Dan datanglah lagu malam
Sadarku tertidur
Sampai sejauh ini aku berjalan
Menepis siang dan malam
Bersama denganmu

Mimpipun terlihat,
Ku tersenyum dtaman bunga
Dan memetik bunga kebahagian
Sungguh indah

Kuingin menggapai mimpi itu
Yang membawaku terbang bersamamu
Dilangit keindahan
Akan selalu terbayang
Tanganmu yang mengikat tanganku
Bayangmu yang menarik bayangku
Rasamu yang membawa rasaku

Aku sayang kamu


2004

RASA TAK TERUNGKAP

Mampukah ku mengungkap semua ini?
Saat pintu hati mulai terbuka
Ketika gumpalan salju mulai mencair

Mulut ini bisu
Tapi hati ingin berkata
Mata ini buta
Namun mata hati ini melihat
Telingaku tuli
Tetapi jiwaku merasa
“Tidakkah dia menjadi keajaibanku?”

Mungkin sang putri diam membisu
Tak tahu sang pangeran
Yang sedang resah menanti jawaban

Diriku bukanlah pujangga
yang pandai merangkai kata
Aku hanyalah seorang “Zaqqiya”
Yang tak pernah mengerti
Hati sang pangeran


2004

TEGAR SETIA

Keriuhan di jendela hati
Makin membuka pintu-pintu cerita
Relung-relung menyentak
Atas perjalanan cinta

Meski tak berwarna
Setitik nila pun cukup
Mengisyaratkan genangan cinta
Yang terjepit naungan nyawa

Aku tak mau yang lain
Aku mau kamu
Merangkak bersama menghadang topan
Meniti sang waktu

Walau berat,
Tak kunjung sirna
Kobaran sayangku yang panas mendidih

Karena sang Agung telah mengaruniakan
Karena sang pemurah telah mengirimkan
Sekantong permata
Pada mata hati dua insan


2004

BUTUH SINAR TERANG

Kucari dimana titik terang
Terowongan sederet perkara
Jaring-jaring rasa tetap tertuju
Pada jejak kaki para tetua

Batangku hampir patah
Daun beterbangan entah kemana?
Sekarang terang,
Esok gelap,
Lusa hujan,
Dan kelak, bersinarkah semua?

Menyerah?
Pengecut !
Aku seorang pengecut !

Kekuatanku hampir punah
Akar-akar mulai rapuh
Ditikam badai tak henti

Dalam gelap petir menyambar
Dalam terang bertabur pelangi
Gelap dan terang tak bertoleransi

Bercahayalah permataku
Pantulkan sinar terangmu
Tepat mengenai hati rapuh


2004

DIMANA ENGKAU?

Tak kurasa lagi setetes air
Yang dulu membasahi dahagaku
Tak kudapat lagi secercah cahaya
Yang dulu menyinari sudut hatiku
Dimana engkau?
Duhai sahabatku
Masih adakah dirimu?

Masih sanggupkah aku merangkulmu?
Masih dapatkah aku menggapaimu?
Sanggupkah aku menggandeng tanganmu?
Untuk berjalan lagi bersamaku

Semua itu sudah terlambat
Aku sudah terlambat memegang pundakmu
Aku terlambat untuk meremas sayapmu
Aku terlambat mengerti dirimu

Maafkan aku sahabat
Aku hanya ingin sepasang merpati itu kembali
Terbang berdua,
Saling mengerti dan menyayangi

Kini aku lemah sahabat
Sang melati telah merenggut kebahagiaanku
Ia telah merubah kebun bungaku
dengan tumbuhan berduri

aku membutuhkanmu sahabat
aku butuh setetes air itu
aku butuh secercah cahaya itu
untuk menyelamatkan jiwaku

2004

BUNGA MAWAR ITU

Kulihat disana
Sekuntum bunga mawar
Tak seceria dulu lagi
Tak setegar dulu lagi

Kulihat,
Sekelompok kumbang-kumbang
Yang dulu menggoda
Tak satupun menghampirinya

Bunga mawar itu tak sesegar dulu
Bunga mawar itu kini layu
Kelopaknya jatuh satu persatu
Wajahnya tak lagi memerah

Hujan badai ia lewati sendiri
Tak ada lagi yang menyiraminya
Tak ada lagi yang memupuknya
Tiada lagi yang memujinya

Lihatlah disana, mereka tersenyum bahagia
Oh, lihatlah disana, mereka iba padanya
Lihatlah itu, bunga melati tertawa melihat penderitaannya
Kasihan sekali ia

Tapi ia bahagia,
Karena masih ada sang matahari
Sang matahari yang selalu menyinarinya
Yang selau membuatnya tersenyum


2004

AKU SEDIH AKU MWNANGIS

kusangka,
di istana megah itu
hanya aku seorang penghuninya
aku salah
di istana megah itu
masih tersimpan
ukiran nama seorang putri
putri yang pernah menghuni istana itu
sungguh aku tak menyangka
kunci istana ada di tanganku
dan kusimpan dalam hati
namun,
sang pangeran masih ragu
aku dapat menyimpan kunci itu
pangeran selalu bertanya
dimana istana tempat aku tinggal dulu?
padahal, aku sedang lupa ingatan
Inilah aku,
Apa adanya diriku
Tapi mengapa
Pangeran tak mau merobohkan dinding istana?
Aku tidak mau
Berada dalam dinding ketraumaan
Biarlah,
Dengan segala keterbatasanku ini
Aku tetap ingin menghuni istana megah itu
Dan aku terus berharap
Istana megah itu
Hanya milikku seorang
Tahukah pangeran?
Aku sedih, aku menangis

26062004

NYANYIAN GALAU

Kucoba menambat hati
Dibawah senyum mendalam
Kuraba, kuraba, dan terus kujamah
Tatkala kemuraman hati

Akupun tahu,
Hatiku kini tergilas
Di sejuta tangis kupinta
Cukup tengokan mesra

Sayang,
Membaur sudah petikan gitar itu
Tiada beralun lagi

Bintang,
Mana malam yang bersyair
Mensyiarkan kesejukan embun

Berat kukira
Merajut nafas terisak-isak
Menata kepingan fajar
Sedangkan benangpun aku tak punya

Dingin….
Rasakan nyanyianku ini
Selimuti kegalauan diri


18062004

AKU TAK PANTAS UNTUKMU

Wajahku tak secantik bunga mawarmu
Hatiku tak sejernih air sungaimu
Diriku tiada sebanding dengan kata indahmu
Aku tak layak berada di istana hatimu
Aku tak cukup bernilai tuk jadi putrimu
Aku tak seperti lukisan anganmu
Diriku hanyalah
Seorang wanita yang tak dapat dibanggakan
Daku hanya setangkai benalu
Yang menjadi simbiosis parasitisme
Daku seorang penyanyi
Yang tak bisa memuaskan hati pendengarnya
Cintaku tak dapat dipercaya
Tapi tahukah
Aku tak pandai bermain cinta
Aku masih terlalu lugu
Tuk memahami arti cinta
Haruskah aku terus menangis
Membawa rasa cintaku, rasa sayangku
Yang tak dapat dipercaya
Dan yang tak berguna
Hh………Aku memang tak boleh tersenyum
Aku siapa ?
Aku bukan wanita istimewa
Aku tak pantas dihampiri kumbang-kumbang
Dengan tinta tangisku ini
Ku berkata
Aaku tak pantas untukmu

07062004

PERPISAHAN

Tak pernah kita bayangkan
Telah datang,
Saat-saat yang tidak kita inginkan

Begitu cepat waktu berlalu
Hingga tak terasa
Waktu telah melemparkan
Seribu satu kisahnya pada perjalanan ini

Susah, senang, bahagia, derita,
Tangis, tawa
Telah kita rasakan bersama
Jalan berliku
telah kita lalui bersama

Inilah saatnya
Memudarkan semua luka
Tak ada salah, tak ada maaf
Hanya senyum menghiasi wajah

Inilah saatnya
Saat yang tepat meneteskan air mata
Karena waktu telah datang
Berusaha memisahkan kita

Berjanjilah kawan,
Tetap kau pendam kisah ini
Tetap kau dendangkan kisah kita
Di setiap langkahmu, dalam lamunanmu

12052004

KEAGUNGANMU

Sujud aku dalam perintah Mu
Terbuai aku di naungan Mu
Dan berserah diri aku pada takdir Mu

Sujud syukur aku panjatkan
Akan rahmat yang Kau berikan padaku
Mata ini, hidung ini, mulut ini, telinga ini,
mulut ini
Semua adalah rahmat Mu

Wahai Sang kholik
Kau ciptakan alam semesta ini
Kau ciptakan siang dan malam
Engkau berikan bahagia dan derita

Maafkan aku sang kholik
Jika daku tak mampu memanfaatkan rahmat Mu
Jika daku hanya mampu berbuat keburukan atas rahmat Mu

Ya…… Sang Kholik
Kuakui kekuasaan Mu, ke Esaanmu
Dan kumengakui keagungan-Mu

2005

SENYAP

Kulihat disekitar, sepi
Kutengok keluar, begitu sunyi
Tak adakah orang bernyanyi dengan suara merdu?
Kemana mereka?
Tak bisakah mereka mengalunkan piano dengan
Indah?

Suara alam menggelegar
Kau merasakannya? Kau mendengarnya?
“tidak” , “tidak”
“Aku merasakannya”, kata buku berwarna pink
“Aku mendengarnya”, sahut boneka-boneka manis itu

Gelas tangisku pecah
Sang matahari mencoba membelaiku dengan
sinarnya
Menenangkanku dengan senyumya
Akankah ini selamanya?

2005

TERUKIR KISAH

Telah terukir kisah di taman langit
Tak terlihat, tak terdengar, tak terbayang
Nyata keindahannya

Sedang berbisik angin
“ukiran itu terlihat indah”
Daun bergoyang tanda tersenyum

Bumi berpijak pada jiwa yang hampa
Menjerat, mengikat, merangkul
Tak tergoyahkan
Karat menjelma menjadi cinta
Harus bagaimana lagi ?

Senja telah mengukir kisah ini
Tak bertema, tak berjudul
Namun berasa


2004

RINDU

Harus dibawa kemana ini ?
Segudang rasa rindu hati
Yang terus membayangi
Setiap hela nafasku

Kala malam datang
Mata ini sulit terpejam
Mimpi datang menyapa
Rindu tahu semua semu

Sudah kuhapus sem,ua mimpi
Tetap saja hati merindu
Pada seraut wajah itu

Oooh… peri cinta
Datanglah padaku
Taburkan penawar rindumu
Di awang – awang rinduku

2005

AKU TAK BISA

Kasih,
Kurasa cinta kita
Tak mudah tuk diarungi
Sungguh luas lautan ini

Hutan, gunung,
Semuanya t’lah kau beri padaku
Tapi apa yang t’lah kuberi padamu?
Hanya pemandangan suram
Yang tak dapat dilihat

Kutahu betapa besarnya rasamu padaku
Betapa besar inginmu,
Untuk mengarungi lautan luas ini
Akupun sama sepertimu
Namun tak pernah bisa sepertimu

Maafkan aku kasih
Tinggalkan saja diriku
Yang tak mungkin
Memberi keharuman bunga mawar di taman hatimu

2005

TAK TERSISAKAH?

Hidup,
tak bisakah ia membagi kasih sayangnya pada dunia?
tidakkah ia merasa kasihan pada dunia?
tak lelahkah ia mengitari dunia ini?

laut,
tak maukah ia menyisakan sedikit airnya tuk sungai?
sementara ombak selalu berkata
"Aku ingin pergi ke pantai"

matahari,
sanggupkah ia selalu tersenyum pada dunia?
dan bulan,
masihkah keindahannya hanya untuk dunia?
sementara semua kawannya
t'lah lupa pada dunia


2005

PEMBERHENTIAN

Di pucuk ketinggianku
Kini terbuka lebar
Seikat sampah busuk
Yang telah lama
Terselaput kain sutra

Ini akhir,
Dari sederet petualangan
Meninggalkan seberkas
Rasa indah dalam benak

Di pemberhentian terakhirku
Tiada kata terindah
Selain
Aku bangga padaku
Dan kuucapkan
Selamat tinggal serangkaian pena

2004

HIDUP

Asa itu tak akan hilang
Jika batang itu tak patah
Kalau air itu tetap mengalir
Sampai cahaya tak bersinar

Cinta akan datang
Saat dewa cinta
Melepasakn mata panah dari busurnya
Dan persahabatan ini akan pudar
Saat keharuman tertiup angin
Dan tinta hitam menodai kertas putih

Kemelut angin hitam
Menutupi pandangan
Serpih-serpih debu itu
Menodai mata
Sang matahari tertawa
Dan sang bulan tersenyum
Memandang kebohongan di dunia ini
Semua itu semu
Semua itu bayang
Kehidupan ini hanya mimpi


2004

JAWABAN

Mugkinkah kan kau tunggu bulan itu ?
Untuk mengeluarkan
Lembaran kitab yang kau remuk
Di lemari rindu
Sementara semua bulan telah hanyut
Termakan arus

Bukan maksud hatiku melambaikan tangan
Hatiku hanya gumpalan salju
Yang kini membeku di musim dingin
Yang tak tahu nanti dimusim kemarau
Akankah salju itu tetap membeku atau mencair

2004

GUNDA

Hatiku bagai berada
Pada timbangan kehidupan
Bimbang, ragu, cemas,
Semuanya bercampur menjadi satu
Tapi aku tak tahu mengapa semua itu terjadi

Anganku melayang terbang ke angkasa
Kekhusyuanku di terpa badai angin
Kesadaranku pergi jauh entah kemana
Keimananku mulai memudar
Jasadku mulai tak terkendali
Ruhku tak dapat di kendalikan
Jiwaku menangis melihat keadaanku
Hatiku menjerit tak mengerti
Apakah gerangan yang terjadi ?


2004

DIMANA KEADILAN?

Dalam asa dan cita
Terdapat sebuah harapan
Tentang seonggok kebahagiaan

Walaupun angin benua
Terus berhembus
Benua menunjukkan keperkasaannya
Dengan kasih sayang ia berjalan
Kekuatan keluarga ia gunakan

Ombak laut terus mengejarnya
Dengan senyum dan tawa
Ia terus menghadangnya

Sepatah kata yang terus ia ungkap
Dimana Keadilan?

2004

MAYA

Maya
Pandangan ini hanyalah maya
Kita tertipu oleh ini semua
Perjalanan ini hanya fartamorgana
Yang tak dapat diungkap

Manusia tertipu oleh topeng-topeng kehidupan
Sang insan terbelenggu dalam cerita duniawi
Bunga-duri,dingin- panas,hitam-putih
Semua bercampur aduk
Hanya perisai kesabaran yang dapat melindungi
Senyum,sapa,perjuangan
Merupakan senjata untuk hidup

2004

JALANKU

Di bawah sinar bulan
Duduk aku dalam sendiri
Dan mengungkap perjalanan hidupku
Yang tak tahu arah tujuan

Dalam ketidakpastianku aku berjalan
Dalam kebimbanganku aku melangkah
Dalam keraguanku aku berkata
Dan dalam kesendirianku pun
Aku menentukan pilihanku

Hatiku bimbang, hatiku ragu
Hatiku gelisah
Sulit sekali mengungkap isi hati ini
Isi hati yang tak mungkin dimengerti oleh siapapun

Tapi langkahku tak akan goyah
Aku akan terus maju
Terus maju dalam kegelapan
Kegelapan yang menutupi mata dan hatiku

2004

SENDIRI

Seluruh urat nadiku berkata
Aku suka seorang diri
Tersenyum menatap dinding
Menyanyi menghibur diri

Tak ada satu makhluk pun
Yang akan tahu
Berwarna apa ruang jiwaku
Merahkah, putihkah, hitamkah?
Semua,
Cuma mata hatiku yang tahu

Tubuhku,
Sekedar jubah keperkasaan
Arwahku berkata
Lebih baik sendiri

2003

MUTIARAKU

Mutiara di bukit kecil
Berubahlah cahayanya
Bukan cahaya putih bersinar
Melainkan cahaya putih kehitaman
Tak lagi terasa sentuhan lembutnya
Tak lagi memancar kesejukan embunnya
Tak lagi dia tunggu seribu bulan
Cahayanya termakan arus
Termakan waktu
Terbuai angin, terbuai senyum
Terkait hujan, terkait badai
Pada sudut hati kecil
Dimana cahaya putih bersinar ?


2003

SYUKUR

Rasa syukur kupanjatkan padamu ya Allah
Yang telah memberikan rahmatmu padaku
Hingga aku bisa menghirup udara segar
Diumurku yang ke-14 ini

Sujud syukur kupanjatkan ya Allah
Kau berikan kehangatan keluargaku
Kau berikan kesempurnaan bagiku

Ya Allah
Begitu aku tidak menyangka
Senyum yang aku miliki
Hari ini bisa engkau rubah menjadi tangis kebahagiaan

Betapa aku tidak bahagia ya Allah
Rasa sayang itu
Kurasakan semakin dalam
Dari mereka yang menyayangiku

Terima kasih ya Allah
Kau buat hari jadiku kali ini sungguh berkesan
Hingga aku menyadari
Betapa besar karuniaMu padaku

Ya Allah
Restuilah hambaMu ini
Untuk menjalankan misiku
Diumur yang ke-14 ini


2003

TAK TAHUKAH KAMU?

Kau tak juga mengerti
Dimana aku saat ini
Aku berada dalam lingkaran
Lingkaran yang sulit di lalui

Dunia, asa, cinta,
Telah mengikatku dengan lingkaran
Tak memberiku ampun secuil pun
Tak ada iba setetes pun

Tidak dapatkah kau menjadi guntingku?
Yang memotong lingkaran itu
Yang membuka lingkaran itu
Tak maukah kau menengokku saja?
Aku berusaha kluar dari lingkaran
Untuk menyapamu, memberimmu senyum

Tidakkah kau tahu
Betapa menderitanya aku
Kesepiannya aku, sedihnya aku
Tak berdayanya aku

Aku menangis, merintih
Betapa besar rasaku padamu
Sungguh dalam sayangku padamu

Sudahlah,
Ini takkan berguna
Aku hanya harus tersenyum dalam lingkaran


2003

BAPAK

Kulihat sesosok tubuh
Sesosok tubuh yang terbaring diatas ranjang kecil
Sosok tubuh yang tak berdaya
Dengan kaki yang dibalut perban putih

Tak terasa
Setetes air berada di pipiku
Dengan hati yang sungguh menyesal
Dan merenungi semua salahku padanya

Sungguh berdosa aku padanya
Tak pernah kuhargai pendapatnya
Tak kupahami cara berfikirnya
Tingkah lakunya
Dan tak pernah bisa kupahami
Cara ia menyayangiku

Kini terlambat sudah
Tak pantas kumenyesali
Sudah sering kusakiti hatinya
Penyesalanku takkan berguna tuk kesembuhannya

Bapak,
Aku tak dapat berbuat apa-apa
Aku tak berdaya
Hanya panjatan do’a yang dapat kuberikan
Ya Allah, berikanlah kesabaran dan ketabahan padanya
Berikanlah kesehatan yang berlimpah untuknya
Lindungilah dia, tolonglah dia
Agar aku bisa menebus salahku padanya. Amien


2002

LAMUNANKU

Di bawah hujan yang deras ini
Duduk aku dalam sendiri
Dan lamunanku
Membawaku menciptakan sebuah tulisan

Sorak sorai suara anak-anak
Mengingatkan aku pada masa kecilku
Masa kecil yang sangat indah
Yang lepas dari semua beban

Saat aku kecil akupun sama seperti mereka
Bermain di bawah air hujan dengan senyum lebarku
Tapi sekarang, aku tak bisa
Aku bisa sakit karenanya

Kini aku sudah dewasa
Hidup memang arif
Aku dibuatnya tersenyum, menangis, berfikir
Dan aku dibuatnya sadar
Bahwa semua itu hanya cobaan dari-Nya

2002

IBU

IBU

Ibu kau selalu menyayangiku
Dari aku kecil hingga aku besar
Saat kau mengandungku, 9 bulan lamanya
Kau selalu membawaku kemana-mana

Tidak kau hiraukan sakit diperutmu
Saat kau tidur, tengkurap salah,
Terlentang salah, miring salah
Engkau sungguh menderita
Karena diperutmu ada aku

Saat kau melahirkanku
Engkau mempertaruhkan nyawa,antara
Hidup dan mati
Saat aku mulai tumbuh kau membimbingku
Dan akupun mulai tumbuh besar
Akupun mulai nakal
Kau menasehatiku agar aku tidak nakal

Ibu kini aku sudah dewasa
Aku hidup dengan kasih sayangmu
Tanpa kasih sayangmu aku tak akan hidup

Aku selalu menyusahkanmu
Jasa-jasamu ibu tak akan kulupakan
Jasa-jasamu ibu tak bisa terbalas
Dengan emas permata



Puisi pertama dalam hidupku, Saat aku masih kelas 6 SD
2000


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Bridal Dresses. Powered by Blogger